METABOLISME GLIKOGEN

PENDAHULUAN

Glikogen merupakan bentuk simpanan karbohidrat yang utama di dalam tubuh hewan dan analog dengan pati di dalam tumbuhan. Unsur ini terutama terdapat di dalam hepar (sampai 6%) dan otot yang jarang melampaui jumlah 1%. Namun, karena massanya yang jauh lebih besar, jumlah simpanan glikogen dalam otot bisa mencapai tiga hingga empat kali jumlahnya dalam hepar (Tabel 1). Seperti pati, glikogen merupakan polimer  a-D-glukosa yang bercabang (Gambar 1).

Tabel 1. simpanan karbohidrat dalam tubuh manusia dewasa normal (70 kg) setelah penyerapan makanan.

Glikogen hepar                                                     4,0% = 72 g1

Glikogen otot                                                        0,7% = 245 g2

Glukosa ekstraseluler                                           0,1% = 10 g3

327 g
1 berat hepar 1800 g

2 massa otot 35 kg

3 volume total 10 L

Gambar 1. molekul glikogen A : struktur umum. B : pembesaran struktur pada sebuah titik cabang.

A                                                            B

I.  KEPENTINGAN BIOMEDIS

Glikogen otot berfungsi untuk menjadi sumber heksosa yang tersedia bagi proses glikolisis di dalam otot itu sendiri. Glikogen hepar sebagian besar berhubungan dengan sim­panan dan pengiriman heksosa keluar untuk mempertahan­kan kadar glukosa darah, khususnya pada saat-saat sebelum sarapan. Setelah 12-18 jam puasa, hatnpir seluruh simpanan glikogen dalam hepar mengalami deplesi, sedangkan gliko­gen otot baru mengalami deplesi yang berarti setelah sese­orang melakukan olah raga yang berat dan lama. Penyakit simpanan glikogen (glycogen storage disease) merupakan kelompok kelainan bawaan yang ditandai oleh gangguan mobilisasi glikogen dan penumpukan bentuk-bentuk gliko­gen abnormal, sehingga mengakibatkan kelemahan otot dan bahkan kematian penderitanya.

II.  GLIKOGENESIS TERUTAMA TERJADI DALAM OTOT DAN HEPAR

a.  Lintasan Biosintesis Glikogen Meliputi Glukosa Nukleotida yang   Khusus dan Aktif (Gambar 2)

Glukosa akan mengalami fosforilasi menjadi glukosa 6­-fosfat, yaitu reaksi yang lazim terjadi sebagai reaksi pertama dalam lintasan glikolisis dari glukosa. Reaksi fosforilasi ini dikatalisasi oleh enzim heksokinase di dalam otot dan glukokinase di dalam hepar. Glukosa 6-fosfat akan diubah menjadi glukosa 1-fosfat dalam reaksi yang dikatalisasi oleh enzim Fosfoghtkotnutase. Enzim itu sendiri akan mengalami fosforilasi, dan gugus fosfo akan mengambil banias dalam reaksi reversibel di mana glukosa 1,6-bisforfat merupakan senyawa-antara.

Enz-P + Glukosa 6-fosfat Û Enz + Glukosa 1,6-bisfosfat Û

Enz-P +  Glukosa 1-fosfat.

Selanjutnya, senyawa glukosa 1-fosfat bereaksi dengan uridin trifosfat (UTP) untuk membentuk nukleotida aktif uridin difosfat glukosa (UDPGIc)* (Gambar 3).

Reaksi antara glukosa 1-fosfat dan uridin trifosf, dikatalisasi oleh enzim UDPGIc pirofosforilase.

UTP + Glukosa 1-fosfat Û UDPGIc + PPI

Hidrolisis berikutnya pirofosfat anorganik oleh enzim. pirofosfatase anorganik akan menarik reaksi ke arah kanan persamaan reaksi.

Dengan kerja enzim glikogen sintase, atom C1 pada glukosa aktif UDPGIc rnembentuk ikatan glikosidik dengan C4 pada residu glukosa terminal glikogen, sehingga membebaskan uridin difosfat (UDP). Molekul glikogen yang sudah ada sebelumnya atau molekul “glikogen primer harus terdapat untuk memicu reaksi ini. Molekul primer glikogen selanjutnya dapat terbentuk pada primer protein yang dikenal sebagai glikogenin.

UDPGIc + (C6)n à UDP + (C6)n+1

glikogen glikogen

Glikogenin adalah protein dengan 37 kDa yang ter­glikosilasi pada residu tirosin khusus oleh UDPGIc. Lebih lanjut residu glukosa melekat di dalam posisi 1à4 untuk membentuk rantai pendek yang diaktifkan oleh glikogen sin­tase. Pada otot rangka, glkogenin tetap melekat di bagian tengah molekul glikogen (Gambar 1), sedangkan di hati, jumlah molekul glikogen berlebih dibandingkan molekui glikogenin.

xSenyawa gula difosfat nukleosida lain yang juga dikenal, misalnya UDPGal. Selain itu, gula yang sama bisa berikatan dengan nukleotida yang berbeda. Contohnya, glukesa bisa berikatan dengan uridin (seperti, ditunjukkan di atas), demikian puladengan guanosin, timidin, adenosin atau sitidin.

Gambar 2. Lintasan glikogenesis dan glikogenolisis di dalam hepar. Dua fosfat energi-tinggi digunakan dalam penylsipan t mol glukosa ke-dalam glikogen. Å, Stimulasi; (-) inhibisi. Insulin menurunkan kadar cAMP hanya setelah kadar cAMP dinaikan oleh glukagon atau epinefrin; oleh yang kata lain, insulin bekerja sebagai antagonis kerja kedua hormon tersebut. Glukagon aktit di dalam otot jantung tetapi tidak aktif di dalam rangka. Glukan transferase dan enzim pemutus cabang tampaknya merupakan enzim yang sama dengan 2 aktivitas yang terpisah.

Gambar 3. uridin difosfat glukosa (UDPGlc)

b.  Percabangan Meliputi Pelepasan Rantai Glikogen yang Ada

Penambahan residu glukosa kepada rantai glikogen yang sudah ada sebelumnya atau molekul “primer”, teriadi pada ujung luar molekul yang bersifat nonreduksi sehingga “cabang-cabang” pada “pohon” glikogen akan memanjang begitu terbentuk ikatan 1àA yang berturutan (Gambar 4). Setelah rantai texsebut diperpanjang hingga mencapai minimal 11 residu glukosa, maka enzim kedua, yaitu enzim percabangan (amilo[1à4]à[1à6]-transglukosidase) akan memindahkan bagian dari rantai 1à4 (panjang mini­mal 6 residu glukosa) kepada rantai di sebelahnya untuk membentuk ikatan 1à6, dan dengan demikian membuat titik percabangan dalam molekul tersebut. Cabang-cabang itu akan tumbuh dengan penambahan lebih lanjut unit 1à4 ­glukosil dan percabangan selanjutnya. Setelah jumlah residu terminal nonreduksi meningkat, jumlah total tempat reaktif dalam molekul akan meningkat sehingga mempercepat gli­kogenesis maupun glikogenolisis.

Gambar 4. Biosintesis glikogen. Mekanisme percabangan terlihat sebagaimana di ungkapkan dengan penambahan glukosa berlabel 14C.

III. GLIKOGENOLISIS BUKAN PROSES PEMBALIKAN    GLIKOGENESIS, MELAINKAN LINTASAN TERPISAH

Penguraian Meliputi Mekanisme Penghilangan Cabang (Gambar 2) Penguraian (degradasi) merupakan tahap yang dikatali­sasi oleh enzim fosforilase dengan membatasi kecepatan dalam glikogenolisis.

(C6)n + Pi à4 (C6)n-1 + Glukosa 1-fosfat

glikogen glikogen

Enzim ini spesifik untuk proses pemecahan fosforilasi (fosforolisis) ikatan-1à4 glikogen untuk menghasilkan glukosa 1-fosfat. Residu glukosil terminal pada rantai paling-luar molekul glikogen dikeluarkan secara sekuensial sampai kurang-lebih 4 residu glukosa tetap berada pada tiap sisi cabang-1 à 6 (Gambar 5). Enzim lainnya (α­[1àA]…a-[1…4]β glukan transferase memindahkan unit trisakarida dari cabang yang satu kepada cabang lainnya sehingga membuat titik cabang 1…6 terpajan. Pemecahan  hidrolisis ikatan 1à6 memerlukan kerja enzim penghilang -cabang (amilo[1à6] glukosidase) yang spesifik. Dengan menghilangkan cabang tersebut, kerja selanjutnya enzim fosforilase dapat berlangsung. Gabungan kerja enzim fosfo-rilase dan enzim-enzim lainnya menghasilkan pemecahan lengkap glikogen. Reaksi yang dikatalisasi oleh enzim fosfo-glukomutase itu bersifat reversibel, sehingga glukosa 6-fosfat dapat dibentuk dari glukosa 1-fosfat, didalam hepar dan ginjal (tetapi tidak di dalam otot) terdapat suatu enzim spesifik, yaitu glukosa 6-fosfatase,   yang  menerangkan  gugus  fosfat dari glukosa 6-fosfat sehingga memudahkan difusi glukosa dari sel ke dalam darah.  Peristiwa merupakan tahap akhir dalam proses glikogenolisis hepatik, yang dicerminkan dengan kenaikan kadar glukosa.

Gambar 5. sejumlah tahapan dalam glikogenolisis

IV. AMP SIKLIK MENGINTEGRASIKAN PENGATURAN GLIKOGENOLISIS DAN GLIKOGENESIS

Enzim utama yang mengendalikan metabolisme glikogen-yaitu glikogen fosforilase dan glikogen sintesa ­diatur oleh sebuah rangkaian reaksi yang kompleks dan meliputi baik mekanisme alosterik maupun modifikasi konvalen akibat fosforilasi serta defosforilasi protein enzim yang reversible.

Banyak modifikasi kovalen disebabkan oleh kerja cAMP (AMP siklik; asam 3′,5′-siklik adenilat) (Gambar 6) unsur cAMP merupakan senyawa-antara intrasel atau second messenger, dan banyak hormon bekerja melalui antara ini, cAMP terbentuk dari ATP oleh enzim adenilil siklase. yang terdapat dalam permukaan internal membran sel. Adenilil siklase diaktifkan oleh hormone seperti epinefrin dan noretinefrin yang bekerja lewat reseptor β-adrenergik pada membran sel  dan disamping itu di dalam hepar oleh glukagon yang bekerja lewat reseptor glukagon yang independen. cAMP dihancurkan oleh fosfodiesterase, dan aktifitas enzim inilah yang mempertahankan kadar normal cAMP yang rendah. Insulin pernah dilaporkan dapat mcningkatkan aktivitas enzim tersebut di dalam hepar sehingga menurunkan konsentrasi cAMP.

Gambar 6. asam 3,5-asenilat (AMP siklik, cAMP).

a.  Fosforilase Hepar Berbeda dengan Fosforilase Otot

Di dalam hepar, enzim fosforilase terdapat baik dalam bentuk aktif maupun inaktif. Fosforilase aktif (fosforilase a) mempunyai salah satu gugus hidroksil serin yang terfosforilasi dalam ikatan ester. Melalui kerja enzim fosfatase yang spesifik, yaitu protein fosfatase-1, enzim tersebut akan kehilangan aktivitasnya menjadi fosforilase b dalam sebuah aksi yang meliputi pengeluaran hidrolisis gugus fosfat dari residu serin. Pengaktifan kembali mernerlukan fosforilasi ulang dengan ATP dan enzim spesifik, yaitu fosforilase kinase.

Secara imunologis dan genetis, fosforilase otot berbeda dengan fosforilase hepar. Fosforilase merupakan senyawa dimer, yang setiap monomernya mengandung 1 mol piri­doksal fosfat. Ada dua bentuk enzim fosforilase: fosforilase a, yaitu bentuk aktif dan terfosforilasi baik dengan maupun tanpa adanya AMP (pengubah alos-teriknya), dan fosfori­lase b yang mengalami defosforilasi dan aktif hanya kalau terdapat AMP. Enzim fosforilase ini terdapat pada saat olah raga ketika kadar AMP naik. Fosforilase a merupakan ben­tuk fisiologis-aktif enzim tersebut yang normal.

b.  cAMP Mengaktifkan Fosforilase Otot

Fosforilase di dalam otot diaktifkan oleh epinefrin (Gam­bar 7). Akan tetapi, proses ini terjadi bukan sebagai akibat langsung tetapi dengan bantuan kerja cAMP. Pening­katan konsentrasi cAMP akan mengaktifkan suatu enzim dengan spesifisitas yang agak luas, yaitu protein kinase yang bergantung-cAMP. Enzim kinase ini mengkatalisasi reaksi fosforilasi fosforilase kinase b yang inaktif oleh ATP menjadi fosforilase kinase a yang aktif. Enzim yang aktif ini selanjutnya dengan bantuan fosforilasi lebih lanjut akan mengaktifkan fosforilase b menjadi fosforilase a.

Enzim protein kinase bergantung-cAMP yang inaktif tersusun dari 2 pasangan subunit, yang setiap pasangannya terdiri atas sub unit regulasi (R) yang mengikat 2 mol cAMP, dan subunit katalisis (C) yang mengandung tempat aktif, Penggabungan dengan cAMP menyebabkan disosiasi kompleks R2C2 sehingga melepaskan monomer C aktif.

R2C2 + 4cAMP Û 2C + 2(R-cAMP2)

Enzim aktif Enzim inaktif

Gambar 7. pengendalian fosforilase di dalam otot. Rangkaian reaksi yang disusun sebagai suatu aliran memungkinkan penguatan sinyal hormonal pada setiap tahap. (n=jumlah residu glukosa).

c.  Ca2+ Mensinkronisasikan Aktivasi Fosforilase dengan Kontraksi Otot.

Glikogenolisis meningkat beberapa ratus kali lipat di dalam otot segera setelah dimulainya kontraksi. Peristiwa ini meliputi aktivasi cepat enzim fosforilase yan terjadi karena aktivasi enzim fosforilase kinase oleh Ca2+, yaitu sinyal sama yang memicu kontraksi. Enzim fosforilase kinase otot mempunyai empat tipe sub unit, yakni a,  b, g dan  d, dalam rumus bangun yang digambarkan sebagai (abgd)4. Subunit a dan β, dalam  mengandung residu serin yang mengalami fos­forilasi oleh enzim protein kinase yang bergantung-cAMP. Subunit (β mengikat empat Ca2+ dan identik dengan protein pengikat Ca2+, kalmodulin. Pengikatan Ca 2+ mengaktifkan tempat katalisis subunit g, sementara molekul tetap berada dalam konfigurasi b yang mengalami defos­forilasi. Walaupun demikian, bentuk a terfosforilasi hanya aktif sepenuhnya bila ada Ca2+. Yang mempunyai makna penting, struktur kalmodulin ternyata serupa dengan struktur TpC, yaitu protein pengikat Ca2+ di dalam otot. Molekul kedua kalmodulin atau TpC dapat mengadakan interaksi dengan fosforilase kinase sehingga mengakibatkan aktivasi  selanjutnya. Jadi, aktivasi kontraksi otot dan glikogenolisis dilaksanakan oleh protein pengikat Ca2+ yang sama sehing­ga menjamin sinkionisasinya.

d.  Glikogenolisis dalam Hepar Bisa Tidak Bergantung pada cAMP

Di samping kerja utama glukagon dalam membentuk cAMP dan mengaktifkan fosforilase di dalam hepar, bebe­rapa penelitian memperlihatkan pula bahwa reseptor a1 merupakan mediator utama stimulasi glikogenolisis oleh epinefrin dan norepinefrin. Proses ini meliputi mobilisasi Ca 2+ yang tidak bergantung-cAMP dari mitokondria ke dalam sitosol dengan diikuti oleh stimulasi enzim fosfori­lase kinase yang peka terhadap kalmodulin/Ca2+. Gliko­eenolisis yang tidak bergantung-cAMP juga disebabkan oleh vasopresin, oksitosin dan angiotensin II yang bekerja lewat kalsium atau lintasan fosfatidilinositol bisfosfat (Gambar 8).

Gambar 8. fosfolipase C memecah PIP2 menjadi diasilgliserol dan insitol trifosfat. R1 umumnya berupa stearat dan R2 biasanya arakidonat. IP3 dapat mengalami defosforilasi (menjadi 1-1,4-P2 inaktif) atau fosfolirasi (menjadi 1-1,3,4,5-P4 yang potensial aktif).

(IP3)

e.  Protein Fosfatase-1 Menyebabkan Inaktivasi Fosforilase.

Baik Fosforilase a maupun fosforilase kinase a akan mengalami defosforilasi dan inaktivasi oleh enzim protein fosfatase-1. Protein fosfatase-1 dihambat oleh suatu protein yang dinamakan Inhibitor-1, dan protein inhibitor-1 ini bersifat aktif hanya setelah mengalami fosforilasi oleh enzim protein kinase yang bergantung-cAMP. Jadi, cAMP mengendalikan baik aktivasi maupun inaktivasi fosforilase (Gambar 7).

f.  Aktivitas Glikogen Sintase dan Fosforilase Diatur Secara Timbal-Balik (Gambar 9)

Seperti halnya fosforilase, enzim glikogen sintase bisa terdapat dalam keadaan terfosforilasi atau tak-terfosforilasi. Namun, berbeda dengan fosforilase, bentuk aktifnya berada dalam keadaan tidak-terfosforilasi (glikogen sintase a) dan  bisa dihilangkan aktivitasnya menjadi glikogen sintase b lewat reaksi fosforilasi pada tujuh residu, serin oleh tidak kurang dari enam protein kinase yang berbeda. Keseluruhan tujuh tempat fosforilasi itu terdapat pada masing-masing dari empat subunit yang identik. Dua enzim protein kinase ber­gantung pada Ca2+/kalmodulin (salah satu di antaranya ada­lah fosforilase kinase). Enzim kinase lainnya adalah protein kinase yang bergantung-cAMP, yang memungkinkan kerja hormon dengan pengantaraan-cAMP untuk menghambat sintesis glikogen secara sinkron dengan aktivasi glikogeno­lisis. Enzim kinase lainnya dikenal sebagai enzim glikogen sintase kinase-3,-4 dan -5. Glukosa 6-fosfat merupakan aktivator alosterik enzim glikogen sintase b, yang menurun­kan nilai Km untuk UDP-glukosa dan memungkinkan sin­tesis glikogen oleh enzim yang terfosforilasi. Glikogen juga menghambat pembentukannya sendiri, dan insulin juga merangsang sintesis glikogen di dalam otot melalui peng­galakan defosforilasi serta aktivasi enzim glikogen sintase b.

Dalam keadaan normal, reaksi defosforilasi glikogen sintase b dilaksanakan oleh enzim protein fosfatase-1, yang berada di bawah kendali enzim protein kinase yang bergantung cAMP (Gambar 9).

Gambar 9. Pengendalian glikogen sintase di dalam otot (n = jumlah residu glukosa). Rangkalan reaksl yang disusun dalam suatu aliran menyekan penguatan (amplifikasi) pada setiap tahap sehlngga memungkinkan hormon dalamjumlah satu nanomol saja untuk menimbulkan perubahan penting dalam konsentrasi glikogen. (GSK, glikogen sintase kinase- 3, – 4 dan – 5; anak panah berombak, aktivasi alosterik.)

V. PENGATURAN METABOLISM GLIKOGEN DILAKUKAN LEWAT KESEIMBANGAN AKTIVITAS ANTARA GLIKOGEN SINTASE DAN FOSFORILASE (Gambar 10)

Glikogen sintase dan fosforilase berada di bawah kendali substrat (lewat kendali alosterik) di samping dalam. kendali hormonal. Bukan saja fosforilase diaktifkan oleh kenaikan konsentrasi cAMP (lewat enzim forfarise kinase), tetapi pada saat yang bersamaan glikogen juga diubah menjadi bentuk inaktif; kedua efek terjadi terjadi dengan pengantaraan enzim protein kinase yang bergantung-cAMP. Jadi, penghambatan glikogenolisis akan meningkatkan jumlah netto glikogenesis, dan penghambat­an glikogenesis akan meningkatkan jumlah netto glikogeno­lisis. Yang penting lagi di dalam pengaturan metabolisme glikogen ini adalah penemuan yang menunjukkan bahwa reaksi defosforilasi enzim fosforilase a, fosforilase kinase dan glikogen sintase b dilangsungkan hanya oleh sebuah enzim dengan spesifisitas luas, yaitu enzim protein fos­fat-se-1. Selanjutnya, enzim protein fosfatase-1 ini diham­bat oleh protein kinase yang bergantung-cAMP lewat inhi­bitor-1 (Gambar 10). Jadi, glikogenolisis dapat diakhiri dan glikogenesis dapat dirangsang secara sinkron atau seba­liknya, karena kedua proses ini dicocokkan dengan aktivitas enzim protein kinase yang bergantung-cAMP. Baik fosfo­rilase kinase maupun glikogen sintase dapat mengalami reaksi fosforilasi yang reversibel pada lebih dari satu tempat eleh enzim kinase dan fosfatase yang terpisah. Fosforilasi sekunder ini mengubah kepekaan tempat primer terhadap fosforilasi dan defosforilasi (multisite phosphorylation)

Gambar 10. Pengendalian-terkoordinasi glikogenolisis dan glikogenesis oleh enzim protein kinase yang bergantung-cAMP. Beberapa reaks yang menghasilkan glikogenolisis sebagai akibat peningkatan konsentrasi cAMP diperlihatkan dengan anak-panah tebal, den reaksi yang menghambatnya diperlihatkan dengan anak-panah putus-putus. Reaksi kebalikan akan terjadi kalau konsentrasi AMP menurun sebagai hasil kegiatan enzim fosfodiesterase, yang menimbulkan glikogenesis.

Faktor Utama yang Mengendalikan Metabolisme Glikogen di dalam Hepar adalah Konsentrasi Fosforilase a

Enzim ini bukan saja mengendalikan tahap pembatas­ kecepatan dalarn glikogenolisis, tetapi juga menghambat aktivitas protein fosfatase-1 dan dengan demikian mengen­dalikan sintesis glikogen (Gambar 10). Inaktivasi fosfori­lase terjadi sebagai hasil penghambatan alosterik oleh glukosa ketika kadar senyawa ini mengalami kenaikan setelah makan. Aktivasi disebabkan oleh 5′-AMP yang bereaksi terhadap deplesi ATP. Pemberian insulin menyebabkan inaktivasi-segera fosforilasi yang diikuti oleh aktivasi gli­kogen sintase. Efek insulin tersebut memerlukan keberadaan glukosa.

VI.  ASPEK KLINIK Penyakit Simpanan Glikogen (Glycogen Storage Diseases) merupakan Penyakit Bawaan

Istilah “penyakit simpanan glikogen (glycogen storage diseases)” merupakan istilah generik yang dimaksudkan un­tuk menjelaskan suatu kelompok kelainan bawaan yang di­tandai oleh penumpukan glikogen dengan jumlah atau jenis yang abnormal di dalam jaringan tubuh. Kelainan glikogeno­sis yang penting dirangkumkan dalam Tabel 2. Defisiensi enzim adenil kinase dan protein kinase yang bergantung­ cAMP juga pernah dilaporkan. Beberapa kelainan yang di­jelaskan berhasil ditolong dengan transplantasi hepar.

Tabel 2. Glycogen stroge disease

Glikogenosis Nama Penyakit Kelainan Karakteristik
Tipe I Penyakit von Gierke Defisiensi glukosa-6-fosfatase Sel-sel hati dan sel-sel tubulus ginjal berisikan glikogen, Hipoglikemia, laktiasidemia, ketosis, hiperlipemia.
Tipe II Penyakit Pompa Defisiensi lisosomal 1Q4- dan 1® 6 glukosidase (asam maltase) Fatal, akumulasi glikogen dalam lisosom pada gagal jantung.
Tipe III Limit dextrinosis, penyakit forbes atau cori Tidak adanya enzim pemutus Akumulasi polisakarida bercabang yang khas
Tipe IV Amilopektinosis,penyakit andersen Tidak adanya enzim percabangan Akumulasi polisakarida yang memiliki beberapa titik pencabangan, kematian disebabkan gagal jantung atau hati pada tahun pertama kehidupan
Tipe V Defisiensi miofosforilase, sindrom McArdle Tidak adanya fosforilase otot Hilangnya toleransi terhadap latihan fisik, otot memiliki kandungan glikogen yang abnormal (2.5-4%). Sedikit atau tidak ada laktat dalam darah setelah latihan fisik
Tipe VI Penyakit herd Defisiensi fosforilase hati Kandungan tinggi glikogen dalam  hati, kecenderungan menuju hipogelikemia
Tipe VII Penyakit tarui Defisiensi fosfofruktokinase dalam otot dan erittrosi Seperti tipe V tetapi juga mungkin anemia hemolitik
Tipe VIII Defisiensi forforilase kinase hati Seperti tipe VI

KESIMPULAN

(1)  Glikogen merupakan bentuk simpanan karbohidrat yang utama dalam tubuh mammalia dan dijumpai terutama dalam hepar dan otot.

(2)  Dalam hepar, fungsi utan:a glikogen adalah untuk melayani jaringan tubuh lain lewat pembentukan glukosa darah. Dalam otot, unsur ini hanya memenuhi kebutuhan organ itu sendiri sebagai sumber bahan bakar metabolik yanv siap pakai.

(3)  Glikogen disintesis dari glukosa dan prekursor lain­nya lewat lintasan glikogenesis. Pemecahannya terjadi melalui sebuah lintasan terpisah yang dikenal sebagai gliko­genolisis. Glikogenolisis menyebabkan pembentukan glu­kosa dalam hepar dan pembentukan laktat dalam otot yang masing-masing terjadi akibat adanya atau tidak adanya enzim glukosa-6-fospatase.

(4)  AMP siklik mengintegrasikan pengaturan glikogenolisis dan glikogenesis secara timbal balik dengan menggalakkan aktifitas enzim fosforilase dan inhibisi enzim glikogen sintase.

(5)  Kelainan bawaan defisiensi enzim-enzim yang spesifik dalam metabolisme glikogen di dalam hepar maupun otot merupakan penyebab terjadinya simpanan glikogen.

DAFTAR PUSTAKA

Murray, Robert K. 1999. BIOKIMIA HARPER/Robert K. Murray. Ed. 24. Jakarta : EGC. Hal 190-198.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s